Media sosial membuat seseorang dapat melihat pencapaian orang lain hanya dalam hitungan detik. Ada yang membagikan pekerjaan baru, perjalanan, pencapaian pendidikan, hubungan, hingga gaya hidup.
Di satu sisi, hal tersebut bisa menjadi inspirasi. Namun, jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan membandingkan kehidupan sendiri dengan apa yang terlihat di layar dapat membuat seseorang merasa tertinggal.
Sejumlah pembahasan dan penelitian terbaru mengenai social comparison menunjukkan adanya hubungan antara perbandingan sosial di media sosial, kepercayaan diri, dan kesejahteraan mental.
Yang Terlihat di Layar Bukan Seluruh Kehidupan
Salah satu kesalahan dalam membandingkan diri adalah menganggap apa yang terlihat di media sosial sebagai gambaran lengkap kehidupan seseorang.
Padahal, unggahan biasanya hanya menampilkan bagian tertentu. Kegagalan, kebingungan, masalah keuangan, konflik, atau hari-hari buruk belum tentu ikut dibagikan.
Akibatnya, seseorang dapat membandingkan kehidupan nyata yang penuh proses dengan potongan kehidupan orang lain yang sudah dipilih dan dikemas.
Perbandingan Sosial Bisa Mengubah Cara Melihat Diri
Ketika seseorang terlalu sering melihat pencapaian orang lain, standar keberhasilan pribadi dapat berubah tanpa disadari.
Hari ini merasa sudah berkembang, tetapi setelah melihat pencapaian orang lain, tiba-tiba muncul pikiran bahwa semuanya masih kurang.
Fenomena perbandingan sosial seperti ini menjadi salah satu perhatian dalam pembahasan kesehatan mental di era digital. Mental Health Foundation Australia juga menyoroti tekanan perbandingan di media sosial serta kaitannya dengan kesejahteraan dan rasa percaya diri.
Mindset Realistis Membantu Menjaga Perspektif
Mindset realistis bukan berarti memiliki target rendah. Justru, pola pikir ini membantu seseorang menetapkan standar yang sesuai dengan kondisi dan proses pribadi.
Daripada bertanya, “Mengapa saya belum seperti dia?”, pertanyaan yang lebih sehat adalah, “Apa yang bisa saya tingkatkan dari kondisi saya sekarang?”
Perubahan kecil tetap memiliki nilai. Tidak semua perkembangan harus terlihat besar dari luar.
Kurangi Kebiasaan Mengukur Diri dari Kehidupan Orang Lain
Salah satu cara menjaga perspektif adalah membatasi waktu melihat konten yang membuat diri terus merasa kurang. Bukan berarti harus meninggalkan media sosial sepenuhnya, tetapi memilih konten yang dikonsumsi dapat membantu menjaga keseimbangan.
Seseorang juga dapat membuat ukuran keberhasilan sendiri. Misalnya, lebih disiplin daripada bulan lalu, lebih berani mengambil keputusan, atau mampu menyelesaikan sesuatu yang sebelumnya terasa sulit.
Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan dengan garis finis yang sama untuk semua orang. Setiap orang memiliki kondisi, kesempatan, dan kecepatan yang berbeda.
Kepercayaan diri akan lebih mudah tumbuh ketika seseorang mulai menilai dirinya berdasarkan proses dan nilai pribadi, bukan hanya berdasarkan pencapaian orang lain.