Memikirkan masalah adalah hal yang wajar. Namun, ketika satu persoalan terus berputar di kepala tanpa menghasilkan solusi, pikiran justru bisa semakin lelah.
Kondisi seperti ini sering muncul ketika seseorang terlalu fokus pada sesuatu yang sudah terjadi atau terlalu jauh memikirkan kemungkinan buruk di masa depan.
Dalam psikologi, pola berpikir negatif yang berulang dikenal sebagai rumination. American Psychiatric Association menjelaskan bahwa pola pemikiran negatif yang berulang dapat memperburuk kondisi kecemasan atau depresi pada sebagian orang.
Tidak Semua Hal Bisa Dikendalikan
Salah satu mindset yang penting untuk dibangun adalah kemampuan membedakan antara hal yang dapat dikendalikan dan hal yang berada di luar kendali.
Keputusan pribadi, respons terhadap masalah, cara berkomunikasi, serta tindakan berikutnya merupakan beberapa hal yang dapat diusahakan.
Sebaliknya, pendapat orang lain, kejadian yang sudah berlalu, atau hasil akhir dari situasi tertentu tidak selalu dapat dikendalikan sepenuhnya.
Memahami batas tersebut dapat membantu energi mental diarahkan pada sesuatu yang lebih berguna.
Berpikir Terus-Menerus Tidak Selalu Berarti Menemukan Solusi
Ada perbedaan antara memikirkan masalah untuk mencari jalan keluar dan terus mengulang masalah yang sama.
Ketika seseorang sudah mengetahui persoalan tetapi terus memutar skenario buruk di kepala, proses tersebut belum tentu menghasilkan keputusan yang lebih baik.
Beberapa pendekatan untuk menghadapi overthinking antara lain mengenali pemicu, menantang pikiran negatif, memberikan waktu khusus untuk memikirkan kekhawatiran, serta melatih self-compassion.
Artinya, tujuan mindset sehat bukan memaksa pikiran berhenti sepenuhnya. Yang lebih realistis adalah belajar mengarahkan kembali perhatian.
Fokus pada Langkah yang Bisa Dilakukan
Daripada terus bertanya tentang kemungkinan yang belum terjadi, seseorang dapat mengubah pertanyaan menjadi lebih praktis.
Misalnya, “Apa satu hal yang bisa saya lakukan hari ini?”
Pertanyaan sederhana tersebut membantu mengubah fokus dari kekhawatiran menjadi tindakan.
Jika masalah belum dapat diselesaikan hari ini, memberikan jeda kepada diri sendiri juga bukan sebuah kegagalan.
Melepaskan Bukan Berarti Tidak Peduli
Banyak orang mengira melepaskan berarti berhenti peduli. Padahal, melepaskan sesuatu yang tidak dapat dikendalikan justru dapat menjadi cara untuk menjaga energi dan perhatian.
Seseorang tetap dapat memiliki tujuan sambil menerima bahwa tidak semua hasil bisa dipastikan.
Mindset tersebut membantu seseorang lebih fleksibel ketika menghadapi perubahan. Pikiran tidak lagi dipaksa untuk mengendalikan seluruh kemungkinan yang ada.
Jika pikiran yang berulang, rasa cemas, atau tekanan mulai berlangsung terus-menerus dan mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan dari profesional kesehatan mental merupakan pilihan yang layak dipertimbangkan.
Menjaga kesehatan mental bukan berarti memiliki pikiran yang selalu tenang. Yang lebih penting adalah belajar mengenali kapan harus menghadapi masalah, kapan harus mengambil jeda, dan kapan harus melepaskan sesuatu yang memang berada di luar kendali.