Hubungan Gen Z dengan media sosial mulai mengalami perubahan. Generasi yang dikenal sangat dekat dengan internet dan platform digital tersebut kini semakin banyak membicarakan pentingnya penggunaan teknologi secara lebih sehat.
Media sosial tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan Gen Z. Namun, sebagian mulai mengurangi penggunaan platform tertentu, membatasi waktu layar, atau mencari aktivitas offline sebagai cara menjaga keseimbangan.
Laporan Axios pada 2026 mencatat adanya peningkatan kecenderungan sebagian Gen Z untuk menjauh dari media sosial demi kesejahteraan digital.
Media Sosial Mulai Digunakan Lebih Selektif
Bagi Gen Z, media sosial tidak lagi hanya digunakan untuk mencari hiburan.
Platform digital juga digunakan untuk belajar, mencari pekerjaan, membangun jaringan, mendapatkan informasi, dan mengembangkan bisnis.
Namun, penggunaan yang terlalu intens dapat membuat seseorang merasa terus terhubung dengan dunia digital. Karena itu, muncul dorongan untuk menggunakan media sosial secara lebih selektif.
Digital Wellbeing Jadi Perhatian
Konsep digital wellbeing semakin relevan bagi Gen Z.
Digital wellbeing berarti menggunakan teknologi dengan cara yang mendukung kehidupan, bukan justru mengganggu aktivitas sehari-hari.
Mengatur waktu penggunaan media sosial, mematikan notifikasi tertentu, dan menyediakan waktu tanpa perangkat dapat menjadi bagian dari kebiasaan tersebut.
Gen Z Mulai Menghargai Kehidupan Offline
Fenomena menjauh dari media sosial tidak selalu berarti meninggalkan teknologi sepenuhnya.
Sebagian Gen Z justru mencari keseimbangan antara aktivitas online dan kehidupan nyata.
Aktivitas seperti bertemu teman secara langsung, berolahraga, melakukan hobi, membaca buku, atau menghabiskan waktu tanpa smartphone dapat menjadi cara untuk mengurangi ketergantungan pada layar.
Tren Gen Z yang semakin tertarik untuk unplug dari teknologi juga mendapat perhatian pada 2026.
Autentisitas Semakin Dicari
Selain mengurangi waktu online, Gen Z juga semakin memperhatikan autentisitas.
Tekanan untuk selalu terlihat sempurna di media sosial dapat membuat pengguna membandingkan kehidupannya dengan orang lain.
Karena itu, muncul keinginan untuk menampilkan kehidupan yang lebih realistis dan tidak terlalu dibuat-buat.
Kajian terbaru mengenai Gen Z juga melihat adanya ketegangan antara keinginan untuk tampil autentik dan sistem media sosial yang cenderung memberi penghargaan kepada konten yang dikurasi.
Bukan Berarti Anti-Teknologi
Perubahan mindset digital Gen Z bukan berarti generasi ini menolak teknologi.
Sebaliknya, mereka tetap memanfaatkan teknologi untuk banyak kebutuhan. Yang berubah adalah cara penggunaannya.
Teknologi mulai dipandang sebagai alat yang harus dikendalikan, bukan sesuatu yang harus selalu diikuti setiap saat.
Menemukan Keseimbangan Digital
Keseimbangan digital dapat dimulai dari kebiasaan sederhana.
Mengatur batas waktu penggunaan aplikasi, mengurangi notifikasi yang tidak penting, memilih akun yang memberikan manfaat, serta menyediakan waktu untuk aktivitas offline dapat membantu menciptakan pola penggunaan teknologi yang lebih sehat.
Kesimpulan
Mindset digital Gen Z mulai berubah. Media sosial tetap penting, tetapi tidak lagi dianggap harus memenuhi seluruh kehidupan.
Kesehatan digital, kehidupan offline, autentisitas, dan kemampuan mengendalikan penggunaan teknologi semakin menjadi bagian dari cara Gen Z membangun hubungan yang lebih sehat dengan dunia digital.